Booming
Pengguna Blackberry di Indonesia, Gengsi atau Fungsi?
Fenomena
perkembangan Blackberry di Indonesia terhitung yang tercepat di dunia. Bahkan
diprediksi jumlah penggunanya dalam waktu dekat akan segera menyaingi jumlah
penggunanya di AS dan Kanada. Tak kurang perusahaan vendor pembuat BlackBerry
asal Kanada Research In Motion (RIM), mengatakan bahwa pengguna
BlackBerry
Indonesia merupakan pasar yang unik dan potensial. Tak hanya itu, Indonesia
juga merupakan merupakan negara penyumbang keuntungan yang besar bagi Research
In Motion. Hal itu diungkapkan oleh Gregory Wade, Regional Vice President, Researh
in Motion Asia Pasific. “Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan bagi
RIM. Tapi saya tidak bisa memberikan angka spesifik untuk tiap negara atau
regional,” Greg menerangkan.
Jumlah
pengguna BlackBerry di Indonesia pada pertengahan tahun 2009 saja sudah berkisar
300-400 ribu pelanggan, diproyeksi akan menjadi yang terbanyak di seluruh dunia
dalam waktu dekat. Bahkan dalam kurun dua tahun sejak dikenalkan di Indonesia,
pertumbuhannya melesat hampir 500% pada periode 2007-2008. Maka tak heran jika
diperkirakan pengguna Blackberry di Indonesia akan menjadi yang terbanyak di
dunia. “Pengguna BlackBerry terbanyak dunia saat ini ada di Amerika Serikat
(AS) dan Kanada. Di AS sendiri penggunanya berkisar satu juta. Saya rasa
Indonesia tak lama lagi akan melampaui angka itu,” kata Chief Marketing Officer
Indosat, Guntur Siboro di Jakarta.
Paparan
angka-angka di atas tentu sangat mengejutkan kita, mengingat secara ekonomi,
Indonesia masih berada dalam urutan ke 86 negara termiskin di dunia dilihat
dari angka GDP-nya, belum lagi jika dilihat dari beban utang luar negri dan jumlah
angka kemiskinan yang ada. Maka, semua fakta ini tentu akan mengarah pada
sebuah pertanyaan, Mengapa dan Bagaimana pengguna Blakcberry di Indonesia ?
Keunikan
Pengguna Blackberry di Indonesia
Pengguna
Blackberry di lapisan dunia lain biasanya fokus untuk memenuhi kebutuhan kerja,
namun di Indonesia yang terjadi adalah pergeseran dari fungsi kerja ke
lifestyle. “Bukan untuk fungsi sebenarnya karena di Indonesia BlackBerry bukan
buat working tapi sudah bergeser ke lifestye,” kata Dirut Better-B, Kemal Arsjad,
dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Jakarta, Better-B adalah salah satu pengembang
aplikasi BlackBerry dari Indonesia. Ia menambahkan , kebanyakan pengguna
BlackBerry di Indonesia menggunakan gadgetnya untuk mengakses Facebook dan
Twitter. Padahal, kegunaan dan fungsi dari BlackBerry, menurutnya, jauh lebih
luas ketimbang hanya untuk mengakses situs jejaring sosial itu. Senada dengan
Kemar Arsyad, PR Manajer Hucthison CP Telecom, Arum K Prasopjo menuturkan “Hanya di Indonesia, BlackBerry digunakan
oleh user non-corporate kalau di negara lain, BlackBerry digunakan untuk
kepentingan corporate,” .
Salah
satu yang mengagetkan adalah, Personal Identity Number (PIN) yang digunakan
untuk Blackberry Mesenger (BBM) yang selama ini dikenal dengan keekslusifan dan
kerahasiaannya, ternyata di Indonesia berubah dengan cepat menjadi sesuatu yang
‘diobral’ disana-sini. Setiap orang dengan mudah bertukar PIN Bbnya di situs
jejaring sosial manapun. Ini sebuah kenyataan yang bisa dilihat menguntungkan
bagi sebagian orang, tetapi juga menjadikan harus lebih mawas agar PIN tidak
jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.
MarkPlus
menjalankan sebuah survei terhadap beban trafik data operator penyedia layanan
BlackBerry, dan menghasilkan angka 45% di antaranya dipergunakan untuk email,
45% untuk chatting dan social networking khususnya Facebook dan 10% sisanya
untuk browsing.
Data
diatas menunjukkan, meskipun secara prosentase antara penggunaan email dan
chatting / FB adalah sama, tetapi jika dilihat dari kuantitas beban chatting
yang ringan, maka itu menunjukkan bahwa penggunaan terbesar dan paling sering pengguna
BB di Indonesia adalah untuk chatting dan social networking.
“Berbeda
dengan di negara-negara maju. Di sana, BlackBerry kebanyakan dipakai untuk push
mail. Jadi jangan percaya kalau di sini ada orang beli BlackBerry Cuma untuk
push mail. Yakin deh, mereka beli cuma buat chatting dan Facebook,” tandas Alex,
Chief Brand Consultant MarkPlus.
Gengsi atau Fungsi ?
Dengan berbekal data dan paparan di atas, maka kemudian muncul
pertanyaan lanjutan apakah pengguna Blackberry di Indonesia benar-benar membeli
gadget tersebut karena fungsi utama yang dimiliki atau atas nama sebuah gengsi.
Banyak yang hingga hari ini menganggap bahwa perangkat blackberry dengan
harganya yang tinggi bisa menjadi alat untuk meningkatkan daya tawar seseorang
di hadapan rekan kerja atau bisnisnya. Jika dilihat dari biaya lebih yang harus
digunakan seseorang untuk menebus sebuah gadget Blakberry idamannya, padahal
pada saat yang sama ia bisa membeli smartphone dari vendor lain dengan
kemampuan dan aplikasi yang jauh lebih lengkap, maka jawaban bahwa fenomena
booming blackberry di Indonesia adalah sebuah pertaruhan gengsi cukup bisa
dipertanggung jawabkan.
Saya tidak menafikkan sebagian pengguna lainnya yang benar-benar
berorientasi pada fungsi bisnis dengan pushmailnya. Tapi selama penggunaan
Blakcberry masih terdominasi dengan chatting dan social networking, maka
kesimpulan sederhananya adalah : Indonesia dengan perilaku konsumennya yang
unik telah berhasil membuat Blackberry keluar dari ekslusifitasnya sebagai
perangkat kantoran, menjadi gadget sejuta umat yang didamkan semua lapisan
masyarakat !


Tidak ada komentar:
Posting Komentar